Kamis, 30 Oktober 2014
lipida
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lipida merupakan komponen sel atau
jaringan yang terdiri atas beraneka ragam senyawa yang sebagian besar hanya
larut dalam pelarut organik. Lipida tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organiknya, berupa: eter, kloroform, benzen, alcohol, bensin, dan tetra
yang karena sebagian besar tergolong gugus lipofil. Secara sederhana lipida
terdiri dari asil gliserol, fosfolipida, sfingolipida, glikolipida, lipida
terpen, termasuk korotenoid, dan steroid. Dalam lipida ini terdapat dua
komponen utama yaitu lemak (olive), dan minyak (oil). Lemak lebih banyak
ditemukan pada hewan, dan minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan.
Lemak (lipida) merupakan senyawa organik yang tidak larut
dalarn air tetapi dapat diekstrasikan dengan pelarut non polar seperti
kloroform, benzen, dan eter. Lemak terdiri dari ester asam lemak dan gliserin,
Iemak tidak dalam air tetapi larut dalam ester, kloroform, bensin" karena
sebagian besar tergolong gugus lipofil. Dialam terdapat sebagai lemak yang
netral dan disamping zat-zat yang menyerupai lemak (lipoid). Lipida terutama
disusun atas rantai hidrokarbon panjang beiantai lurus, bercabang atau membuat
stnrktur siklis. Lipida kompleks mengandung komponen non lipida seperti fosfat
pada lipida protein pada proteolipida atau pada glukolipida. Trigleserida atau
hiasil gliserol merupakan molekul tidak bermuatan dan dikenal juga sebagai
lipida nehal, lemak atau minyak sederhana. Trigleserida merupakan bagian lipida
yang dikonsumsi. Trigleserida terurai menjadi komponen penyusun oleh lipase.
Fosfolipida merupakan turunan tiasil gliserol yang salah satu komponen asam
lemaknya oleh senyawa fosfat. Fosfolipida yang sering dijumpai dialam adalah
lesitin, sefalin" fosfogliserida serin, fosfogleserida inositol.
Trigliserida disebut juga lipid Netral, yang merupakan
molekul yang tidak bermutan. Sedangkan Enzim protein yang disentesis oleh sel
hidup untuk mengktalisis reaksi yang berlangsung didalamnya.
Tujuan Praktikum
Pada praktikum Lipida ini, sub materi yang dipraktikumkan
minggu ini ada dua. Pertama pada daya kelarutan lipida, ini bertujuan untuk
melihat daya larutan lipida dan asam-asam lemak dalam berbagai pelarut. Kedua,
pada praktikum emulsi dari lemak bertujuan untuk mengamati keadaan emulsi dari
lemak dan zat yang bertindak sebagai emulgatur.
TINJAUAN PUSTAKA
Lipid
adalah sekumpulan senyawa di dalam tubuh yang memiliki ciri-ciri yang serupa
dengan malam, gemuk (grease), atau minyak. Karena bersifat hidrofobik, golongan
senyawa ini dapat dipakai tubuh sebagai sarana yang bermanfaat untuk berbagai
keperluan. Misalnya jenis lipid yang dikenal sebagai trigliserida berfungsi
sebagai bahan bakar yang penting. Senyawa ini sangat efisien untuk dipakai
sebagai simpanan bahan penghasil energi karena terkumpul dalam butir-butir
kecil yang hampir-hampir bebas air, membuatnya jauh lebih ringan daripada
timbunan karbohidrat setara yang sarat air. Jenis lipid yang lain lagi
merupakan bahan structural yang penting. Kemampuan lipid jenis ini untuk saling
bergabung menyingkirkan air dan senyawa polar lain menyebabkannya dapat
membentuk membran sehingga memungkinkan adanya berbagai organisme yang
kompleks. Membran tersebut memisahkan satu sel dengan sel yang lain di dalam
jaringan, serta memisahkan berbagai organel di dalam sel menjadi
ruangan-ruangan yang memiliki ciri kimia tertentu sehingga dapat ditata dan
diatur sendiri (Gilvery & Goldstein, 2006).
Lemak merupakan komponen utama dari
membrane sistem kehidupan, Dua tipe lemak yang dapat tersaponifikasi dalam
membrane memiliki suatu gugusan fosfat dalam strukturnya dan dengan demikian
disebut fosfolipid. Salah satu jenis memiliki gliserol sebagai senyawa induk
(fosfogliserida) dan yang lain memiliki sfingosin (sfingolipid). Dua komponen
lemak lain yang penting dari membrane adalah glikolipid yang mengandung
karbohidrat dan steroid kolesterol, yang disebut terakhir ini merupakan suatu
lemak non-saponifikasi yang berasal dari eukariotik yang ditemukan dalam membrane
seluler hewan (Armstrong, 2005).
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan.. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes); (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, cerebrosida; (3) derivate lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimianya yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu lipid yang dapat disabunkan, yakni yang dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid. Lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan struktur kimianya, yaitu: asam lemak, lemak, lilin, fosfolipid, sfingolipid, terpen, steroid, lipid kompleks (Riawan, 2009).
Suatu Lipid didefinisikan sebgai senyawa organic yang terdapat dalam alam serta tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic non polar sperti suatu hidrokarbon atau dietil eter ( Fessenden & Fessenden,2002)
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan.. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes); (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, cerebrosida; (3) derivate lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimianya yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu lipid yang dapat disabunkan, yakni yang dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid. Lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan struktur kimianya, yaitu: asam lemak, lemak, lilin, fosfolipid, sfingolipid, terpen, steroid, lipid kompleks (Riawan, 2009).
Suatu Lipid didefinisikan sebgai senyawa organic yang terdapat dalam alam serta tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic non polar sperti suatu hidrokarbon atau dietil eter ( Fessenden & Fessenden,2002)
Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari
asam lemak dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic se[erti eter, aseton,
kloroform, dan benzene (Salirawati et al,2007)
Asam lemak jenuh minyak kelapa kurang lebih 90%.
Minyak kelapa mengandung 84% trigliserida dengan tiga molekul asam lemak jenuh,
12% trigliserida dengan dua asam lemak jenuh dan 4% trigliserida denganasam
lemak jenuh (ketaren,2006).
Sifat fisik Minyak kelapa yang terpenting adalah
tidak mencair tahap demi tahap seperti lemak yang lain akan tetapi langsung
berubah menjadi cair, hal ini disebabkan karena titik cair asam lemak
penyusunnya bedekatan, asam lemak laurat 44○C,asam lemak miristat 54○C,
asam lemak palmitat 63○C. Dengan demikian plastisitasa trigliserida
juga terbatas (Murdijati gardjito,2003)
MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat Praklikum Biokimia Dasar ini
mengenai Lipida
dilaksanakan pada tanggal 8 April 2013 pukul 12.00 WIB s/d
selesai, yang bertempat di Laboratorium Kimia Dasar ( UMIPA ) Universitas
Jambi.
Materi
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Biokimia Dasar
tentang daya kelarutan lipida adalah asam-asam lemak (butirat, stearat, dan
asam oleat), lemak dan minyak (lard,butter, margarin, olive), fosfolipida
(lesitin telur), kolesterol, pelarut (aseton, alkohol, kloroform, eter), tabung
reaksi, kertas saring, pipet tetes, erlenmeyer.
Sedangkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Biokimia Dasar tentang emulsi dari lemak adalah minyak parafin, minyak kelapa, HCL encer, kolesterol, soda, tabung reaksi serta raknya, kertas saring, pipet tetes.
Sedangkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Biokimia Dasar tentang emulsi dari lemak adalah minyak parafin, minyak kelapa, HCL encer, kolesterol, soda, tabung reaksi serta raknya, kertas saring, pipet tetes.
Metoda
Daya Kelarutan Lipida cara kerjanya yaitu :
Periksalah larutan lipida dan asam- asam lemak dalam air dan
pelarut-pelarut di atas, catat perbedaan di antara gugus-gugus utama lipida.
Teteskan 1 tetes larutan lipida di atas pada kertas saring dan biarkan kering.
Amati pembentukan suatu noda lemak yang jernih. Masukan 1 ml air, tambahkan
lipida yang telah dilarutkan dalam etanol kedalam tabung reaksi. Catat
penampakan laruta segera setelah pencampuran dan setelah dibiarkan beberapa
menit. Masukkan air 3 ml kedalam 2 tabung reaksi, tambahkan 2 tetes minyak
zaifiin (olive) kedalam 2 tabung reaksi tersebut. Tarnbahkan lagi larutan
lesitin kedalam salah satu tabung reaksi yang lain. Lalu kocok campuran dengan
baik dan bandingkan stabilitas emulsi yang terbentuk. Apa pengaruh lesitin dan
mengapa.
Emulsi
dari Lemak cara kerjanya yaitu :
Gunakan 4 tabung reaksi yang masing- masing berisi kurang
lebih 5 ml air. 1 tetes minyak paraffin, 1 tetes HCL yang encer, 1 tetes minyak
kelapa 1 tetes soda Lalu amati apa yang terjadi dan jelaskan keadaan
masing-masing tabung reaksi tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Kelarutan daya Lipida dan Terjadinya Emulsi dari Lemak
Hasil:
Tabung 1. Minyak kelapa larut dalam chloroform.
Tabung 2. Minyak kelapa larut dalam eter.
Tabung 3. Minyak tidak larut dalam air, batas antara minyak dan air terlihat jelas.
Tabung 4. Terjadi sedikit gelembung putih pada permukaan larutan
Tabung 5. Terbentuk adanya butir-butir lemak. Minyak mengalami emulsi.
Minyak mempunyai sifar tidak larut dalam pelarut polar dan larut dalam pelarut non-polar seperti alkohol panas, eter, khloroforn, benzene. Pada hasil percobaan, minyak kelapa yang diteteskan pada kloroform dan eter akan larut dan tidak larut dalam air. Hal ini sesuai dengan dasar teori yang digunakan menurut Armstrong (1995). Sifat-sifat lemak yang mengalami saponifikasi dan membentuk emulsi juga sesuai dengan tinjauan pustaka.
Hasil:
Tabung 1. Minyak kelapa larut dalam chloroform.
Tabung 2. Minyak kelapa larut dalam eter.
Tabung 3. Minyak tidak larut dalam air, batas antara minyak dan air terlihat jelas.
Tabung 4. Terjadi sedikit gelembung putih pada permukaan larutan
Tabung 5. Terbentuk adanya butir-butir lemak. Minyak mengalami emulsi.
Minyak mempunyai sifar tidak larut dalam pelarut polar dan larut dalam pelarut non-polar seperti alkohol panas, eter, khloroforn, benzene. Pada hasil percobaan, minyak kelapa yang diteteskan pada kloroform dan eter akan larut dan tidak larut dalam air. Hal ini sesuai dengan dasar teori yang digunakan menurut Armstrong (1995). Sifat-sifat lemak yang mengalami saponifikasi dan membentuk emulsi juga sesuai dengan tinjauan pustaka.
PENUTUP
KESIMPULAN
Lemak memiliki sifat-sifat yang khas
yaitu tidak larut atau sedikit larut dalam air dan dapat diekstrasi dengan
pelarut non-polar seperti chloroform, eter, benzene, heksana, aseton dan
alcohol panas. Lemak mempunyai banyak fungsi biologis yang sangat menunjang
kehidupan organisme, antara lai berperan dalam transport aktif sel, penyusun
membrane sel, sebagai cadangan energi dan isolator panas, sebagai pelarut
vitamin A, D, E, dan K. Lemak dapat mengalami reaksi hidrolisis, ketengikan,
hidrogenasi, penyabunan dan lain-lainLemak dan minyak tidak larut di dalam
asam, alkohol dan alkali(pelarut Polar),tetapi dalam pelarut organik seperti:
eter, kloroform, dll.Lemak dan minyak tidak membentuk emulsi di dalam
air, tetapi di dalam larutan garam seperti Na2CO3
membentuk emulsi.
SARAN
Saran saya adalah dalam praktikum selanjutnya para
praktikan menjaga alat-alat laboratorium di ruang praktikum dan memakainya
dengan hati-hati serta menjaga kebersihan dan ketertiban di dalam ruangan
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Frank B. 2005.
Buku Ajar Biokimia. Edisi ketiga. EGC: Jakarta
Fessenden dan Fessenden.2002.Kimia Organik II,edisi
ketiga.Jakarta: Erlangga
Garjito,M.2003.Minyak:Sumber,penanganan,
pengelolahan, dan pemurnian. Yogyakarta: Fakultas
Teknologi pertanian UGM
Gilvery, Goldstein. 2006.
Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Edisi 3. Airlangga University Press: Surabaya
Ketaren.2006. Pengantar teknologi minyak dan lemak pangan.Jakarta:Universitas
Indonesia press
Riawan, S. 2009.
Kimia Organik. Edisi 1. Binarupa Aksara: Jakarta
Salirawati et al.2007.belajar
kimia menarik. Jakarta: Grasindo
analisis proksimat
BAB 4
ANALISIS SECARA KIMIAWI:
ANALISIS PROKSIMAT DAN ANALISIS VAN SOEST
4.1 Pendahuluan
Penyediaan bahan pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ternak akan
zat-zat makanan. Pemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat
makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah
zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara menyusun ransum, diperlukan
pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu
keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai sifat
kimia secara individual. Zat makanan sumber energi dapat digolongkan mempunyai
kandungan karbon, hidrogen dan oksigen, sedangkan protein terdiri dari asam
amino dan mengandung sekitar 16 persen nitrogen.
Secara garis besar jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisis
kimia, seperti analisis proksimat dan analisis serat (analisis Van Soest). Zat
makanan dapat ditentukan dengan analisis proksimat, dan terhadap pakan berserat
analisis proksimat lebih dikembangkan lagi menjadi analisis serat.
Pengetahuan tentang komposisi nutrien dan jenis bahan pakan merupakan
salah satu komponen penting bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian bidang
peternakan guna menyusun tugas akhir (skripasi). Pemahaman yang masih rendah
terhadap prinsip dan prosedur analisis nutrien bahan pakan menyebabkan
mahasiswa mengalami kesulitan dalam melaksanakan penelitian dan interprestasi
data yang diperoleh. Pemahaman terhadap analisis secara kimiawi memiliki
relevansi dengan pengetahuan mahasiswa terhadap proses dan fisiologi yang
terjadi pada ternak.
Cakupan materi yang disajikan pada Bab 4 ini meliputi pembagian komponen
bahan pakan dari analisis proksimat, prinsip dasar analisis nutrien, kelebihan
dan kelemahan analisis proksimat dan pembagian komponen bahan pakan berdasarkan
kandungan isi dan dinding sel. Disamping itu juga dibahas variasi analitik yang
terjadi karena proses analisis.
Tujuan instruksional khusus yang diharapkan dari materi ini adalah
mahasiswa mampu melakukan analisis kandungan nutrien bahan pakan dengan
prosedur analisis proksimat dan fraksi serat.
4.2. Analisis Proksimat (Proximate Analysis)
Analisis proksimat merupakan salah satu metode penentuan kandungan nutrien
dalam suatu bahan. Analisis ini pertama
kali dikembangkan di Weende Experiment Station Jerman oleh Hennerberg dan Stokmann pada tahun
1856. Analisis ini sering juga dikenal dengan analisis Weende. Analisis
proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan
komposisi kimia dan fungsinya (Tabel 3; Gambar 4), yaitu :
1. air (moisture),
2. abu (ash),
3. protein kasar (crude protein),
4. lemak kasar (ether extract),
5. serat kasar (crude fiber)
6. bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract).
Analisis proksimat menggolongkan vitamin berdasarkan kelarutannya. Vitamin
yang larut dalam air dimasukkan ke dalam fraksi air dan bahan ekstrak tanpa
nitrogen, sedang yang larut dalam lemak dimasukkan ke dalam lemak kasar.
Tabel 3. Komponen Berbagai Nutrien Hasil Analisis Proksimat
|
Nutrien
|
Komponen
|
|
Air
|
Air dan senyawa organik yang mudah
menguap
|
|
Abu
|
Unsur mineral
|
|
Protein Kasar
|
Protein, asam amino, NPN
|
|
Lemak Kasar
|
Lemak, minyak, asam organik, lilin,
pigmen, vitamin ADEK
|
|
Serat Kasar
|
Hemiselulosa, selulosa, lignin
|
|
BETN
|
Pati, gula, selulosa, hemiselulosa,
lignin
|
Kata proksimat berasal dari bahasa Inggris ‘proximate’ yang secara harfiah
artinya mendekati, lebih kurang atau kira-kira. Kata proksimat digunakan karena
hasil yang peroleh dalam analisis ini merupakan hasil yang tidak secara tepat
mencerminkan kandungan nutrien bahan pakan secara individu. Tabel 3 menunjukkan
bahwa komponen yang termasuk dalam suatu nutrien bahan pakan dalam analisis
proksimat tidak hanya berasal dari nutrien itu namun juga beberapa komponen
lain yang karena sifat dan fungsi yang hampir sama. Kandungan air bahan pakan
hasil analisis proksimat bukan hanya air tetapi juga komponen lain yang karena
sifatnya ikut menguap saat penentuan kadar air. Protein kasar mendangung
protein murni, asam amino bebas, nitrogen bukan protein (non protein nitrogen,
NPN), asam nukleat dan semua senyawa yang mengandung nitrogen. Prosedur
analisis proksimat secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:
![]() |
|
|
|||||
Gambar 4. Bagan Rangkuman Analisis Proksimat
Analisis proksimat mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan
prosedur analisis penentuan nutrein yang lain seperti:
·
kebanyakan laboratorium menggunakan sistem ini prosedur
kerja yang relatih lebih mudah.
·
penentuan nutrien tidak selalu membutuhkan peralatan yang
mahal dan canggih
·
menghasilkan hasil analisis secara garis besar dari pakan
yang bersangkutan sehingga dapat diinterprestasikan secara lebih sederhana
·
dapat menghitung Total Digestible Nutrient (TDN) berdasarkan
hasil analisis proksimat dan
·
memberikan penilaian secara umum pemanfaatan makanan pada
ternak.
Disamping kelebihannya, terdapat juga kelemahan analisis proksimat, yaitu:
·
sistem tidak mencerminkan zat makanan secara individu dari
bahan makanan,
·
kurang tepat, terutama untuk analisis serat kasar dan lemak
kasar, akibatnya untuk kalkulasi BETN juga kurang tepat,
·
proses membutuhkan waktu yang cukup lama
·
tidak dapat menerangkan lebih jauh tentang daya cerna,
palatabilitas dan tekstur suatu bahan pakan dan
·
problem utama dari sistem Weende adalah untuk serat kasar,
ekstrak ether dan BETN, yaitu:
|
Fraksi
|
Seharusnya mengandung
|
Mengandung
|
Hilang
|
Kelebihan
|
|
Serat Kasar
|
Senyawa Fibrous
|
-
seluosa
-
sebagian lignin
|
-
hemiselulosa
-
sebagian lignin
-
abu tak terlarut dalam asam
|
-
|
|
Ekstrak Ether
|
Lemak Kasar
|
-
lemak bebas minyak
-
asam lemak
-
chlorofil
-
sterol
-
anthocyanin
-
arotenoids
-
dan lain-lain
|
-
lipida yang tergabung dengan
protein
|
-
chlorofil
-
sterol
-
anthocyanin
-
carotenoids
-
dan lain-lain
|
|
BETN
|
Karbohidrat
Terlarut
|
-
karbodirat terlarut
-
hemiselulosa
-
sebagian lignin
-
abu yang tak terlarut dalam asam
|
-
|
-
hemiselulosa
-
sebagian lignin
-
abu yang tak terlarut dalam asam
|
4.2.1. Bahan Kering
Seperti telah diuraikan pada bab terdahulu, bahwa kandungan bahan kering
sampel atau bahan lainnya dapat diekspresikan dalam 3 basis, yaitu : as
fed, partially dry dan dry matter. Bahan kering sering didefinisikan sebagai berat suatu
bahan setelah dilakukan pengeringan pada suhu 1050C . Defisini ini
hanya tepat untuk inert materials,
tetapi terdapat kelemahan jika diterapkan untuk sampel biologis, seperti feses,
molases dan silase karena:
1. bahan seperti feses, molases dan
silase mempunyai kandungan air yang sangat beragam dari sangat basah hingga dalam berbagai kombinasi
fisikokimia.
2. sampel biologis biasanya mengandung
sistem enzim respirasi aktif yang akan melanjutkan proses pada awal pemanasan. Faktanya,
aktivitasnya akan meningkat sebelum terhenti akibat denaturasi enzim. Disamping
terjadi perubahan komposisi kimia, aktivitas tadi juga menyebabkan hilangnya
bahan kering.
3. kebanyakan sampel biologis mengandung
senyawa organik yang hampir seluruhnya akan menguap pada suhu 1000C .
Secara umum terdapat tiga metode pengeringan untuk
determinasi bahan kering bahan pakan, yaitu:
1. Pengeringan temperatur rendah (low-temperature drying). Beberapa
laboratorium melaksanakan pengeringan suhu rendah dengan menggunakan vacuum drying oven (300C , tekanan 16 mm Hg). Metode pengeringan
ini akan membantu mengurangi hilangnya senyawa yang mudah menguap dan
mengurangi kehilangan akibat aktivitas enzim.
2. Pengeringan temperatur tinggi (high-temperature drying). Kebanyakan
laboratorium melaksanakan pengeringan temperatur tinggi dengan menggunakan oven
pada suhu 1050C .
Metode ini banyak menyebabkan kehilangan senyawa yang tidak tahan panas.
3. Pengeringan beku (freeze drying). Dengan mempertimbangkan perubahan senyawa kimia
menjadi sekecil mungkin saat pengeringan. Metode ini kurang dapat dijadikan
patokan akhir dalam menentukan bahan kering
sampel. Berdasarkan hasil pengamatan cukup banyak senyawa organik yang
mudah menguap ikut hilang selama proses berlangsung.
Prinsip dasar dalam penentuan kadara air adalah air pakan
akan menguap oleh panas, sehingga yang tinggal adalah bahan kering. Persentase
air dihitung dari perbedaan bobot contoh sebelum dan sesudah perlakuan panas.
|
Sampel as fed atau as collected
|
||
|
sampel dengan bahan kering lebih dari 88 %
È
|
|
sampel dengan bahan kering kurang
dari 88 %
È
|
|
giling, Saringan
È
|
|
tentukan % partial dry matter pada
sampel as fed
È
|
|
tentukan bahan kering secara
langsung pada suhu
È
|
|
panaskan pada suhu
È
|
|
hasilnya dikenal sebagai as fed dry
matter (as collected)
|
|
equilibirasi dengan air udara
È
|
|
|
|
analisis ini menunjukkan % partial
dry matter dari as fed
È
|
|
|
|
giling segera dengan saringan
È
|
|
tentukan bahan kering secara
langsung pada suhu
È
|
||
|
as fed dry matter (atau as collected) = % partial dry matter
pada sampel as fed x % dry matter dari sampel partial dry
|
||
Gambar 5. Skema Analisis Bahan Kering Sampel
Penentuan bahan kering bahan yang tak
stabil atau sensitif terhadap panasmelalui pengeringan oven sering memberikan
gambaran underestimated. Pengeringan
dengan oven dapat menyebabkan oksidasi selama pemanasan dan hilangnya substansi
mudah menguap. Suatu bahan pakan mungkin mengandung sedikit sekali hingga 50
persen gula reduksi yang keberadaannya dapat dijadikan petunjuk telah
terjadinya dekomposisi zat makanan. Sebagian besar bahan pakan yang mengandung
protein akan bereaksi dengan gula reduksi dan reaksi dapat dipercepat oleh
pemanasan. Hasil dekomposisi demikian sering dihitung sebagai kadar air.
Penentuan bahan kering dengan metode
TOLUENE dapat mengurangi kesalahan akibat pemanasan terutama terhadap bahan
pakan hasil fermentasi yang diberikan secara langsung seperti silase. Bahan
kering dihitung dari volume air yang hilang melalui proses destilasi dengan
TOLUENE.
4.2.2. A b u
Dalam banyak referensi mengenai makanan ternak, jarang
sekali abu atau bahan organik dibahas
secara mendalam. Komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai makanan yang penting
karena abu tidak mengalami pembakaran sehingga tidak menghasilkan energi.
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan
ekstrak tanpa nitrogen. Meskipun abu
terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya kombinasi unsur mineral
dalam bahan pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai sebagai
indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.
Kadar abu sutau bahan pakan ditentukan dengan pembakaran
bahan tersebut pada suhu tinggi (500-6000C ). Pada suhu tinggi bahan
organik yang ada akan terbakar dan sisanya merupakan abu.
4.2.3. Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan
dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan
dengan kandungan nitrogen bahan pakan melalui metode Kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein;
6.25.
Angka 6.25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16 % nitrogen.
Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada
asumsi dasar yang digunakan yaitu:
·
diasusmikan bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan
protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein
·
bahwa kadar nitrogen protein 16 persen, tetapi kenyataannya
kadar nitrogen protein tidak selalu 16 persen.
Prinsip
dasar analisis protein kasar: Asam sulfat pekat mencerna zat organik dan mengubah N protein menjadi amonium sulfat. Larutan contoh
amonium sulfat ini dibuat basa dengan NaOH pekat. N dari protein ini disuling
sebagai NH4OH kedalam larutan asam standar. Ion NH3
bereaksi dengan sebagian asam, sisa asam
yang tidak bereaksi dititrasi dengan larutan NaOH standar. Dengan titrasi dapat
mengetahui jumlah N. Protein kasar didapat dengan jalan mengalikan jumlah N
dengan faktor protein, 6.25.
Penentuan kadar protein melalui metode Kjeldahl dilakukan
melalui tahap sebagai berikut:
a. Proses destruksi (oksidasi). Perubahan
N-protein menjadi amonium sulfat ((NH4)2SO4).
Sampel dipanaskan dengan asam sulfat (H2SO4) pekat dan
katalisator yang akan memecah semua ikatan N dalam bahan pakan menjadi amonium
sulfat kecuali ikatan N=N, NO dan NO2. CO2 dan H2O
terus menguap. SO2 yang terbentuk sebagai hasil reduksi
dari sebagian asam sulfat juga menguap. Dalam reaksi ini digunakan katalisator
selenium/Hg/Cu. Destruksi dihentikan jika larutan berwarna hijau jernih.
Zat Organik + H2SO4
Æ
CO2 + H2O + (NH4)2SO4
+ SO2
b. Proses destilasi (penyulingan).
Setelah larutan menjadi hijau jernih, labu destruksi didinginkan kemudian
larutan dipindahkan ke labu destilasi dan diencerkan dengan aquades. Pengencer-an
dilakukan untuk mengurangi reaksi yang hebat jika larutan ditambah larutan
alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4
akan melepas-kan amoniak (NH3). Hasil sulingan uap NH3
dan air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam
labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4
kembali. Peyulingan dihenti-kan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat
dalam labu erlenmeyer.
NH3 + H2SO4 Æ (NH4)2SO4 + H2SO4
c. Proses titrasi. Kelebihan H2SO4
yang tidak digunakan untuk menangkap N dititrasi dengan NaOH. Titrasi
dihentikan jika larutan berubah dari biru ke hijau.
d. Kalkulasi. Kandungan protein (persen) ditentukan
dengan persamaan :
100%
x ([mL titrasi blanko – mL titrasi sampel] x Normalitas NaOH x 0.014 x
6.25)/berat sampel
[mL
titrasi blanko – mL titrasi sampel] x Normalitas NaOH = N yang disuling
[mL
titrasi blanko – mL titrasi sampel] x Normalitas NaOH x 0.014 = gram N
[mL
titrasi blanko – mL titrasi sampel] x Normalitas NaOH x 0.014 x 6.25 = gram Protein sampel
4.2.4. Lemak Kasar
Istilah lemak kasar menggambarkan bahwa zat dimaksud bukan
hanya mengandung senyawa yang tergolong ke dalam lemak tetapi termasuk senyawa
lain. Beberapa buku menggunakan kata lipid atau ekstrak eter. Istilah ekstrak
eter ini yang paling tepat, karena dalam analisis proksimat senyawa tersebut
diperoleh setelah dilakukan ekstraksi menggunakan pelarut lemak, yang biasanya
eter. Yang dimaksud ekstrak eter adalah zat yang mengandung senyawa yang larut
dalam eter, termasuk lipid dan zat yang tidak mengandung asam lemak.
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan
metode soxlet yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxlet dengan
menggunakan pelarut lemak, seperti eter,
kloroform atau benzena.
4.2.5. Serat kasar
Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan
didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam
sulfat standar dan sodium hidroksida pada kondisi yang terkontrol. Serat kasar
yang terdapat dalam pakan sebagian besar
tidak dapat dicerna pada ternak non ruminansia namun digunakan secara
luas pada ternak ruminansia. Sebagian besar berasal dari sel dinding tananam
dan mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin. Metode pengukuran kandungan
serat kasar pada dasarnya mempunyai
konsep yang sederhana. Langkah pertama
metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang larut dalam asam dengan
pendidihan dalam asam sulfat. Bahan yang
larut dalam alkali dihilangkan dengan
pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut dikenal sebagai
serat kasar.
Serat kasar merupakan ukuran yang cukup baik dalam
menentukan serat dalam sampel. Pada ternak non ruminansia, fraksi ini sangat
terbatas nilai nutrisinya sehingga pengukuran serat kasar hanya merupakan
pedoman proporsional dalam pakan yang
digunakan oleh ternak.
4.2.6. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen
Kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) suatu bahan
pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak
kasar. Hal ini disebabkan penentuan kandungan BETN hanya berdasarkan
perhitungan dari zat-zat yang tersedia. Bias yang ditemukan pada perhitungan tergantung pada keragaman hasil yang
diperoleh. Besar kandungan BETN dapat ditentukan dengan persamaan:
BETN = 100% - (%KA +
%ABU + % SERAT KASAR +%ROTEIN KASAR + %LEMAK KASAR)
4.2.7. Variasi Analitik
Hasil
analisis yang dilakukan seringkali mengalami penyimpangan dari nilai yang
terdapat dalam referensi. Perbedaan ini dapat terjadi karena Variasi adanya
keragaman dalam pengambilan sampel dan analisis laboratorium. Perbedaan hasil
ini disebut variasi analitis. Variasi analitis memberikan kisaran suatu hasil
analisis, apakah suatu bahan yang diuji memenuhi standar yang tetapkan atau
tidak. Tabel 4 memperlihatakan variasi analitis beberapa bahan baku. Kisaran
penerimaan dapat dihitung melalui langkah berikut:
Æ Langkah 1. Kalikan kandungan zat
makanan yang diharapkan atau tercantum pada dokumen dengan nilai persentase AV
pada Tabel 4. Konversi persentase AV dalam bentuk desimal.
Æ Langkah 2. Tambah atau kurang nilai
yang diperoleh pada langkah 1 dengan kandungan zat makanan yang diharapkan atau
tercantum pada dokumen.
Contoh:
Tepung ikan disebutkan mempunyai kandungan protein 60 persen, maka range hasil
analisis yang dapat diterima adalah 58.6 – 61.4%
§
[1]
60 x [(20¸60 + 2)] = 1.4
§
[2]
60 - 1.4 = 58.6 sampai dengan 60 + 1.4 = 61.4
§
Jadi
kisaran hasil analisis yang masih memenuhi standar yang dapat diterima adalah
58.6 – 61.4
|
Zat Makanan
|
Metode
(AOAC Official Methods of Analysis)
|
AV %
|
Kisaran
|
|
Analisis Proksimat
|
|
|
|
|
Air
|
934.01 930.15
935.29
|
12
|
3 – 40 %
|
|
Protein
|
954.01 976.05
976.06 984.13
|
(20/X + 2)
|
10 – 85%
|
|
Lysine
|
975.44
|
20
|
0.5 – 4%
|
|
Lemak
|
920.39 954.02
962.02
|
10
|
3 – 20%
|
|
Serat
|
962.09
|
(30/X +6)
|
3 – 20%
|
|
Abu
|
942.05
|
(45/X +3)
|
2 – 88%
|
|
Pepsin Digest
|
971.09
|
13
|
|
|
Total sugar as Invert
|
925.05
|
12
|
24 – 37%
|
|
NPN Protein
|
941.04 967.07
|
(80/X +3)
|
7 – 60%
|
|
Mineral
|
|
|
|
|
Kalsium
|
927.02
|
(14/X +6)
|
0.5 – 25%
|
|
Kalsium
|
968.08
|
10
|
10 – 25%
|
|
Kalsium
|
|
12
|
< 10%
|
|
Fosfor
|
964.06 965.17
|
(3/X +8)
|
0.5 – 20%
|
|
Garam
|
969.10
|
(7/X + 5)
|
0.5 – 14%
|
|
Garam
|
943.01
|
(15/X +9)
|
0.5 – 14%
|
|
VITAMIN
|
|
|
|
|
Vitamin A
|
974.29
|
30
|
1200-218,000 IU/lb
|
|
Vitamin B12
|
952.20
|
45
|
|
|
Riboflavin
|
970.65 940.33
|
30
|
1-1500 mg/lb
|
|
Niacin
|
961.14 944.13
|
25
|
3-500 mg/lb
|
Sumber : Herrman (2001)
4.2.8. Konversi Kandungan Nutrien
Hasil analisis proksimat mempunyai tingkat keragaman yang
tinggi tergantung pada preparasi dan pengambilan sampel, proses analisis dan
asal bahan. Perbandingan kandungan nutrien bahan harus dilakukan dalam basis
bahan kering yang sama. Kandungan nutrien suatu bahan pakan dengan kandungan
bahan kering yang berbeda tidak dapat dilakukan perbandingan secara langsung.
Kandungan nutrien bahan-bahan tersbut harus dikonversi ke dalam basis bahan
kering sama, yaitu ke basis as fed, partial atau dry matter. Konversi zat makanan dari suatu basis bahan kering ke
basis bahan kering oven (DRY MATTER BASIS) diperoleh dengan:
![]() |
------------------------------ = ----------------------------------------
|
% ZM PADA DRY MATTER = ------------------------------------------------------
Suatu Teladan. Suatu bahan pakan A mempunyai
kandungan protein kasar sebesar 9% pada kadar kering 80%. Bahan pakan B
mempunyai kandungan protien kasar sebesar 9.5% pada kadar bahan kering 100%.
Pertanyaan : bahan pakan mana yang memiliki kandungan protein lebih
besar?
Jawab :
Bahan Pakan A
Penjelasan : Secara sepintas kandungan protein bahan pakan B (9.5%) lebih
besar dibanding protein Pakan A (9%). Perbandingan demikian tidak dapat
dilakukan karena kedua bahan mempunyai kandungan bahan kering yang berbeda.
Salah satu bahan harus mengikuti kandungan bahan kering lain. Bahan pakan A
dapat dikonversi menjadi kandungan bahan kering 100% atau bahan kering B
dikonversi menjadi bahan kering 80%.
4.3 Analisis Serat (Van
Soest Analysis)
Sehubungan dengan kemampuan ternak ruminansia mencerna
serat kasar, maka dari analisis proksimat dikembangkan oleh Van Soest untuk
mengetahui komponen apa yang ada pada serat.
Sistem analisis Van Soest menggolongkan zat pakan menjadi isi sel (cell content) dan dinding sel (cell
wall). Perbandingan penggolongan nutrien antara analisis proksimat dan
analisis serat dapat digambarkan sebagai berikut:
|
Analisis Proksimat
|
Nutrien
|
Analisis Serat
|
||||
|
PROTEIN
|
![]() |
DINDING SEL
|
||||
|
NON-PROTEIN NITROGEN
|
||||||
|
EKTRAK ETER
|
|
|||||
|
PIGMEN
|
||||||
|
BETN
|
GULA |
|||||
|
ASAM ORGANIK
|
||||||
|
PEKTIN
|
||||||
|
HEMISELULOSA
|
|
|
NDF
|
|||
![]() ![]() LIGNIN LARUT DALAM ALKALI |
LIGNIN
|
ADF
|
||||
|
SERAT KASAR
|
LIGNIN TAK LARUT DALAM ALKLAI
|
|||||
|
NITROEGN DALAM SERAT
|
|
|||||
|
|
|
|||||
|
ABU
|
MINERAL TAK LARUT
|
|
||||
|
MINERAL TERLARUT
|
|
|||||
Gambar 6. Perbandingan antara analisis Proksimat dan Analisis serat
Neutral Detergent Fiber (NDF) mewakili kandungan dinding sel
yang terdiri dari lignin, selulosa, hemiselulosa dan protein yang berikatan
dengan dinding sel. Bagian yang tidak terdapat sebagai residu dikenal sebagai neutral detergent soluble (NDS) yang mewakili isi sel dan mengandung lipid, gula, asam organik, non
protein nitrogen, pektin, protein terlarut dan bahan terlarut dalam air
lainnya. Serat kasar terutama mengandung selulosa dan hanya sebagian lignin,
sehingga nilai ADF lebih kurang 30 persen lebih tinggi dari serat kasar pada
bahan yang sama.
Acid Detergent Fiber (ADF) mewakili
selulosa dan lignin dinding sel tanaman. Analisis ADF dibutuhkan untuk evaluasi
kualitas serat untuk pakan ternak ruminansia dan herbivora lain. Untuk ternak
non ruminansia dengan kemampuan pemanfaatan serat yang kecil, hanya membutuhkan
analisis NDF.

|
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
|
Daftar Pustaka
Herrman, T. 2001b. Evaluating Feed
Component and Finished Feeds. MF2037. Kansas State University Research and
Extension, Manhattan.
Krishna G and S.K. Ranjhan. 1980.
Laboratory Manual for Nutrition Research. Vikas Publishing House PVT Ltd.
Sahibabad India.
Nahm, K.H. 1992. Practical Guide to
Feed, Forage and Water Analysis. Yoo Han Pub. Korea Republic.
Soejono, M. 1990. Petunjuk
Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas
gadjah Mada. Yogyakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)


















